Selasa, 09 November 2010

''KOMPUTER MASA KINI"

Perkembangan komputer masa kini begitu cepat dan semakin mudah digunakan oleh banyak kalangan. Setelah melewati sederetan perjalanan panjang, komputer dimasa sekarang ini lebih maju ketimbang dengan pendahulunya. Setelah tabung hampa, dan ditemukannya IC, perkembangan komputer begitu pesat. Salah satu contoh nyata bahwa perkembangan komputer begitu cepat adalah saat dimana sebuah perusahaan terkemuka yaitu Intel Corporation memperkenalkan sebuah prosesor intel pentium1 yang kemudian disusul dengan pentium 2, pentium 3, dan pentium 4. Dengan dikeluarkannya prosesor tersebut dapat membuktikan bahwa memang dari waktu ke waktu perkembangan komputer sangatlah besar. Pentium itu sendiri adalah generasi kelima dari arsitektur prosesor mikro x86 buatan Intel Corporation, yang desainnya dibuat oleh Vinod Dham. Pentium merupakan penerus dari jajaran prosesor 486, dan mulai dijual ke pasaran pertama kali pada tanggal 22 Maret 1993. Nama asli (kode) Pentium adalah 80586 atau i586, untuk mengikuti penamaan generasi sebelumnya.

Pentium merupakan prosesor pertama dari Intel yang menggunakan arsitektur superskalar, sehingga walaupun Pentium merupakan prosesor yang bersifat CISC (Complex instruction-set computing atau Complex Instruction-Set Computer/Kumpulan instruksi komputasi kompleks), Pentium dapat bekerja seperti layaknya prosesor RISC (Reduced Instruction Set Computing atau Komputasi Kumpulan Instruksi yang Disederhanakan), meskipun pada saat itu belum ada aplikasi yang mampu mengutilisasinya.
Apalagi belum lama ini, Intel memperkenalkan prosesor intel dual core, core2duo, dan core2quad. Hal ini dapat menarik minat masyarakat untuk beralih menggunakan komputer dalam bekerja, belajar, dan lainnya karena semuanya bisa menjadi mudah.
Tidak hanya Intel yang berperan tapi juga ada Apple dan AMD yang bergerak dalam hardware seperti prosesor.

Namun sekarang ini komputer telah berkembang, komputer tidak lagi hanya berupa desktop namun juga sudah berupa notebook/laptop ( komputer jinjing ) dan juga PDA ( seperti telepon genggam).

Nah, kalau kita bicara tentang perkembangan teknologi komputer masa kini, di dunia ini ada beberapa komputer yang bukan sembarang komputer, namun ini adalah super komputer. Tidak semua orang bisa memilikinya dikarenakan tidak hanya biaya untuk memperolehnya sangatlah besar namun juga karena super komputer ini memerlukan perawatan khusus. Ada beberapa super komputer di dunia ini, yaitu di Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Cina, Korea, Amerika, Columbia, dll (setahu saya :)).


Read more: http://viruspintar.blogspot.com/2009/04/komputer-masa-kini-dan-yang-akan-datang.html#ixzz2FsUOytXo

''Musik''

Apa itu musik?

Pada tulisan kali ini, penulis akan mendiskusikan tentang arti musik, karena menurut penulis hal ini begitu penting untuk didiskusikan. Hal ini sangat menggelitik penulis ketika menonton pertunjukkan di Bandung dalam rangka ujian S2 rekan penulis di jurusan Penciptaan Seni ISI Solo. Kemudian penulis menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan para mahasiswa diakhir pertunjukkan diacara forum diskusi. Dia mengatakan "ah, telinga saya belum bisa menerima musik tadi, mana melodinya, mana iramanya, bunyinya juga seperti tidak beraturan, bukankah musik itu berhubungan dengan bunyi, melodi dan irama yang beraturan? Kok, tadi kayanya gak beraturan ya pak, jadi apa dong musik itu?

Tugas pertama penulis untuk pertanyaan tersebut adalah menjelaskan apa itu musik? Sehingga mahasiswa tersebut dapat memahami arti dari musik itu sendiri dan jangan sampai dia mempunyai pandangan yang sempit terhadap arti dari musik.

Pada prinsipnya kita perlu mengetahui dan menjelaskan sifat dasar dari musik itu sendiri. Hal yang paling familiar untuk mulai berasumsi yaitu musik adalah bunyi, ada lagi yang berpendapat bahwa fenomena yang hubungannya dengan manusia disebut dengan musik. Untuk pendapat yang kedua ini tentu perlu kiranya kita memahami fenomena manusia seperti apa yang bisa disebut musik.

Marilah kita bertanya pada diri sendiri, adakah perasaan dimana musik adalah aktivitas manusia? Jawaban logisnya "ya iya lah", tanpa ada bentuk aktivitas manusia, tidak mungkin ada bunyi musikal atau karya musik yang tercipta. Pendek kata, apa itu musik, pada dasarnya merupakan aktivitas manusia. Nah, kalau begitu, ketika kita makan adalah musik, ketika kita naik angkot adalah musik, ketika kita mandi adalah musik, begitukah?

Dalam kasus pertunjukkanya rekan saya, ataupun setiap produk musikal yang datangnya dari pikiran, apa yang dipersembahkannya lebih dari sekedar produk musikal semata, atau sebuah komposisi semata, atau sebuah improvisasi semata, atau sebuah pertunjukkan semata. Tetapi apa yang dipersembahkannya merupakan hasil dari sebuah aktivitas manusia yang mempunyai maksud tertentu. Artinya musik tidak hanya sebuah kumpulan produk atau objek, tetapi dalam hal ini lebih dipandang sebagai suatu simbol, lambang, yaitu "mengatakan sesuatu tentang sesuatu", jadi musik berhadapan dengan makna dan pesan untuk diresapkan. Makna dan pesan tersebut bisa dipengaruhi oleh konteks saat manusia berkarya, baik itu tujuannya, audiensnya dan sebagainya.

Orang yang bernama Hyden melakukan sesuatu yaitu menciptakan concerto. Apa yang dia lakukan adalah menciptakan sesuatu dalam konteks waktu, tempat dan jenis karya musik pada waktu itu. Dalam kasus pertunjukkannya rekan penulis, dia melakukan sesuatu. Apa yang dia lakukan adalah menciptakan, menggubah, mempertunjukkan, berimprovisasi, dan merekam sesuatu sesuai dengan konteks waktu, tempat, dan jenis karya musik yang lain. Banyak sekali macam-macam situasi musikal dimana kedua komponis di atas beraksi dalam menciptakan karyanya.

Jika musik pada dasarnya sebuah bentuk aktivitas manusia yang mempunyai maksud tertentu, setidaknya musik meliputi tiga komponen yaitu, komponis, produk musikal yang dihasilkannya, dan aktivitas dimana komponis tersebut membuat produk musikal. Tetapi menurut penulis ketiga hal tersebut tidak lengkap, sama halnya seperti "bikin sambel gak pake cabe rawit". Komponis membuat sesuatu (musik), berada dalam konteks yang spesifik. Artinya bahwa ketika komponis mengeluarkan ide, akan dipengaruhi oleh konteks tertentu, seperti yang telah disebutkan di atas, bisa dilihat dari tujuannya, para pendengarnya, tempatnya atau waktunya.

Contoh kasus, ketika seorang komponis menciptakan karya musik dari alat musik gong. Untuk membunyikan gong tersebut, dipukul sesuai dengan norma tertentu, tetapi si komponis membunyikannya dengan cara digesek dan dipukul dengan batu bahkan digelindingkan bak sebuah ban yang akan diangkut ke dalam truk. Tentu saja apa yang dilakukan si komponis merupakan hal yang gila bukan? Tentu saja tidak, apabila dikaitkan dengan konteks yang telah dijelaskan tadi. Artinya si komponis mempunyai tujuan, mengetahui siapa pendengarnya atau audiensnya, mengetahui dimana tempat dan waktunya.

Dari penjelasan tersebut, musik pada akhirnya meliputi empat komponen, yaitu
1) komponis,
2) proses membuat karya,
3) hasil karya, dan
4) konteks dimana komponis membuat sesuatu.

Nah, dari pendekatan keempat komponen di atas, rekan penulis dalam membuat karya:
1) akibat dari pengalaman musikal yang sistematis, artinya bahwa pengalaman musikal Iwan dipengaruhi oleh tahapan-tahapan musikal , apakah itu dari belajar, menonton, mendengarkan, atau nasehat-nasehat dari pembimbing,
2) adanya aktivitas yang termotivasi dalam membuat karya,
3) adanya aktivitas yang mempunyai maksud tertentu,
4) aktivitas yang dipengaruhi oleh konteks dimana Iwan membuat karya musiknya.

Dia dipengaruhi oleh konteks kenapa dan bagaimana pendengarnya/audiensnya (termasuk dirinya sendiri) mendengarkan apa yang dia ciptakan. Sebaliknya, pendengar/audiens dipengaruhi oleh mengapa, apa dan bagaimana komponis melakukan apa yang telah diciptakannya. Sehingga rekan saya tadi tidak serta-merta membuat karyanya untuk dipergelarkan disebuah hajatan perkawinan atau sunatan. Ya, konteks karyanya dia hanya untuk kalangan yang mempunyai pemahaman lebih dari sekedar musik.

Beda lagi dengan seorang pencipta lagu "kucing garong", konteks yang dia tujukan adalah untuk khalayak ramai sehingga apabila dipertunjukkan di sebuah hajatan. ya pas saja. Tetapi apabila karya rekan penulis dipertunjukkan di hajatan, banyak orang yang tidak akan paham seperti halnya pendapat mahasiswa tadi, bunyinya gak enak, gak beraturan, gak karuan atau kalau orang sunda bilang "kunaon jelema teh euweuh gawe".

Nah, akhirnya dari tulisan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, musik tidak hanya sekedar bunyi, musik tidak hanya sekedar melodi, musik tidak hanya sekedar irama yang beraturan tetapi musik merupakan hasil dari aktivitas manusia melalui pengolahan bunyi sebagai media ekspresi yang sesuai dengan konteks.

sumber : http://re-searchengines.com/1007sandie.html

Selasa, 02 November 2010

''My hoby''

1.Basket
ya,bermain basket adalah salah satu hobi yang saya gemari...

 2.hobi modifikasi mobil
 yah walaupun tidak punya mobil tapi saya suka......hehe

"MERAPI"

Ancaman awan panas bersuhu 600 derajat celsius dengan kecepatan sekitar 200 kilometer (km) per jam yang sewaktu-waktu bisa menerjang ke arah mereka seolah tak dihiraukan. Tentu, jika itu terjadi, dipastikan akan sangat sedikit waktu untuk mengelak.
”Kalau dibilang takut sih, ya jelas takut. Tetapi, kalau saya takut, bagaimana tugas memantau ini? Bekal saya cuma doa dan pasrah,” ujar Triyono (44), salah satu petugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (1/11/2010).
Bapak tiga anak ini telah bertugas selama 20 tahun di pos yang hanya berjarak sekitar 7 km dari puncak Merapi itu. Sebagai gambaran, instansi berwenang menetapkan radius bahaya primer Merapi minimal 10 km dari puncak.
Tanggal 26 Oktober, kondisi Pos PGM Kaliurang sangat mencekam, seperti daerah sekitar Merapi lainnya. Suasana gelap menjelang malam itu dikejutkan dengan beberapa kali gemuruh dan letusan keras dari puncak yang diikuti gelombang awan panas yang bergulung-gulung ke arah selatan, tak jauh dari tempat Triyono bertugas.
Triyono tetap tenang dan menjalankan tugasnya mengengkol sirene zaman Belanda selama 2 jam untuk memperingatkan warga. Triyono juga tetap melaporkan pengamatan visualnya kepada kantor pusat selama proses erupsi berlangsung.
Setelah erupsi berjalan sekitar 3 jam, barulah ia dan ketiga rekannya turun menyelamatkan diri. Itu pun setelah mendapat instruksi dari kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta sebagai atasan mereka. ”Kami menyingkir hanya satu jam, setelah itu naik lagi untuk kembali bertugas,” kata Triyono.
Kecemasan keluarga atas nasibnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Pasalnya, sejak berstatus Siaga pada 21 Oktober lalu, petugas PGM yang biasa berjaga bergiliran diharuskan berdinas penuh, tinggal di pos.
Tugas penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat inilah yang dianggap Yulianto—satu dari tujuh petugas pengamatan di Pos Babadan, Magelang, Jawa Tengah,—sebagai amanah yang harus dijalankannya sebagai petugas pos pengamatan.
Pos Pengamatan Babadan berjarak 3 km dari perkampungan terdekat di Desa Krinjing, Kabupaten Magelang, dan ”tetangga” terdekat pos hanyalah lahan pertanian warga dan semak-semak.
Namun, Yulianto mengaku tidak kesepian. Dia juga tidak pernah mengeluh atau membandingkan antara besaran gaji dan risiko pekerjaannya yang cukup berbahaya jika terkena awan panas Gunung Merapi.
Saat Merapi ”tenang”, bukan berarti pekerjaan meringan. Petugas PGM harus selalu menajamkan mata mengamati Merapi, baik dari dalam pos dengan teropong maupun dari atas menara. Meleng sedikit, apalagi tertidur saat jaga bisa berakibat fatal.
Zaman Belanda
Petugas PGM mengemban tugas sebagai garda terdepan pengamatan visual Merapi, salah satu dari dua metode pemantauan aktivitas Merapi yang dilakukan BPPTK. Metode lainnya adalah pengamatan instrumental dengan peralatan canggih.
Pengamatan langsung Gunung Merapi merupakan metode paling sederhana dan telah digunakan sejak awal pemantauan gunung berapi teraktif di dunia itu pada masa kolonial Belanda abad ke-19.
Kala itu, karena belum ada peralatan monitoring canggih, menjadikan petugas PGM sebagai satu-satunya andalan untuk mendapatkan informasi secara mendetail seputar aktivitas Merapi. Telinga, mata, dan penciuman para petugas PGM menjadi alat utama untuk mendeteksi berbagai gejala Merapi, khususnya yang mengarah pada bahaya erupsi.
Selain PGM Kaliurang, Badan Geologi juga mendirikan empat pos lain, mengelilingi Merapi, yakni di Jrakah, Ngepos, dan Babadan di wilayah Magelang, serta Selo di Boyolali.
Setiap pos dijaga dua petugas, kecuali pos Babadan yang beranggotakan tiga orang. Saat krisis seperti sekarang, petugas ditambah 1-2 orang dari pos pengamatan gunung berapi lain. Jarak setiap pos dengan puncak Merapi bervariasi, dari yang terdekat 4,5 km (Babadan) dan terjauh 12 km (Ngepos).
Selain para petugas PGM, pemantauan aktivitas Merapi juga dilakukan warga biasa yang tergabung dalam komunitas radio yang tersebar di lereng-lereng Merapi. Salah satunya adalah komunitas Balerante yang bermarkas di Dusun Gondang, Kelurahan Balerante, Klaten. Anggota komunitas Balerante yang lebih dari 1.000 orang terdiri dari warga, relawan, aparat keamanan, dan wartawan. Setiap hari, selama Merapi aktif, mereka terus mengabarkan situasi Merapi dari markasnya di Balerante, yang jaraknya hanya 4 km.
Ribuan orang, termasuk Keraton Yogyakarta, diam-diam mendengarkan live streaming di situs www.merapi.combine.or.id. Manager Bidang Media dan Pengetahuan Yayasan Combine Resource, Yossy Suparyo, mengatakan, mereka menyediakan server untuk menyatukan radio komunitas lereng Merapi. Inisiatif para relawan yang tergabung dalam Jalinan Informasi (Jalin) Merapi membuat jangkauan radio komunitas Balerante yang berdasarkan aturan hanya 2,5 km menjadi tak terbatas.

sumber : www.kompas.com

Welcome to my blog

Hi...
selamat datang di blog saya...